mediakita_prabowoDitulis Oleh Adi Baskoro, Jumat, 23 Pebruari 2007

Hasil analisa Dewan Kehormatan Perwira (DKP) menyatakan bahwa Prabowo Subianto bersalah. Pada Senin, 10 Juli 1998 di Markas TNI AD, usai pemeriksaan yang difokuskan pada persoalan mengapa ia melakukan kegiatan itu. Prabowo dianggap salah menganalisa dan menerjemahkan perintah dari atasan. Analisa yang salah itu dia lakukan dengan menculik para aktivis.

Pada Rabu, 12 Juli 1998 masih di Mabes TNI AD, Prabowo mengakui ada kesalahan. DKP saat itu memeriksa hal-hal berkisar pada disiplin, prosedur, kejujuran, ataupun tabiat keperwiraannya. Prabowo dituding mem-BKO-kan (Bawah Kendali Operasi) perintah penculikan. Padahal wewenang BKO ada pada panglima tertinggi yang didelegasikan ke pangab.

Benarkah BKO itu inisiatif Prabowo sendiri? Atau titipan dari seseorang? Siapa sosok the untouchable man itu? Bagaimana cara mengetahui dan melacak siapa yang memerintah? Haruskah kita pesimis, karena biasanya kita hanya ketemu dengan kambing hitam dan kasus-kasus tak berujung pangkal?

Demikian sejengkal cuplikan dan pertanyaan-pertanyaan yang dari buku “Prabowo Sang Kontroversi” (Kisah Penculikan, Isu Kudeta, dan Tumbangnya Seorang Bintang) yang diterbitkan mediakita. Sebuah kumpulan artikel, esai, dan hasil wawancara dari tabloid Detak.

Sungguh tak mudah mengungkap siapa dalang penculikan para aktivis sebelum masa jatuhnya Suharto. Sampai saat ini, kasus ini pun masih gelap dan belum terungkap, walaupun sepuluh anggota Kopasus pernah diperiksa.
Prabowo Subianto, saat itu sebagai Danjen Kopasus jadi pembicaraan banyak orang. Tudingan sebagai dalang serangkaian aksi penculikan para aktivis, penembakan mahasiswa Trisakti, dan biang kerusuhan Mei 1998 melekat erat pada the brightest star, bintang paling bersinar di jajaran militer Indonesia.

Tuduhan keras lainnya adalah adanya “pertemuan konspirasi” di Markas Kostrad pada 14 Mei 1998, isu hendak mengudeta yang dikaitkan dengan  tuduhan “pengepungan” kediaman Presiden B.J. Habibie oleh pasukan Kostrad dan Kopassus. Hampir semua kekacauan di tanah air sebelum dan sesudah Mei 1998 nyaris melekat pada Prabowo.

Investigasi lengkap dan menyeluruh soal misteri BKO, penculikan, dan isu  kudeta ada dalam buku kumpulan file dari Tabloid Detak. Erros Djarot dan  kawan-kawan bermaksud mengurai kisah penculikan, isu kudeta, dan tumbangnya seorang Prabowo dalam berbagai sisi. Secara sederhana Munir,SH. dari Kontras (Almarhum), hanya ingin mendesak agar TNI lebih transparan, dan mengumumkan siapa yang menandatangi BKO.

Buku ini berisi artikel dan hasil wawancara serta testimoni dari para korban penculikan, seperti Andi Arif, Ketua SMID, Raharjo Waluyo Jati, Desmond J Mahesa, Pius Lustrilanang, dan lainnya. Para mantan petinggi TNI, seperti: Rudini, mantan KSAD, Mayjen Theo Syafei, mantan pangdam Udayana tak luput dari target untuk mengorek informasi.

Buku ini menyingkap posisi Prabowo, yang selalu dituding sebagai tokoh sentral  dalam peristiwa penculikan aktivis. Kasus ini mengakhiri karir cemerlang sebagai  perwira militer. Juga isu-isu rivalitas Prabowo dan Wiranto, dan kabar angin  yang memanaskan situasi tentang “kudeta” yang baru diungkap delapan tahun kemudian oleh mantan presiden B.J. Habibie.